Inovasi pembelajaran berbasis IT
Fenomena Guru dan Siswa yang Aktif Bermain Media Sosial tetapi Minim Literasi: Tinjauan Budaya, Sosial, Psikologis, dan Agama
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, terutama melalui kehadiran media sosial seperti TikTok. Platform ini menawarkan berbagai manfaat, mulai dari hiburan, komunikasi, hingga penyebaran informasi. Namun, penggunaan yang berlebihan tanpa diimbangi dengan budaya literasi dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Fenomena yang sering menjadi perhatian adalah banyaknya guru dan siswa yang aktif menggunakan TikTok, tetapi kurang menunjukkan peningkatan dalam wawasan, kemampuan berpikir kritis, dan minat belajar. Artikel ini mengkaji fenomena tersebut dari perspektif budaya, sosial, psikologis, dan agama untuk memahami penyebab serta dampaknya terhadap kualitas pendidikan.
TikTok telah menjadi salah satu media sosial paling populer di Indonesia. Kemudahan akses, durasi video yang singkat, serta beragam konten menarik membuat platform ini digemari oleh berbagai kalangan, termasuk guru dan siswa. Di satu sisi, TikTok dapat menjadi sarana pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak terkendali dapat mengurangi minat membaca, menurunkan konsentrasi belajar, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana media sosial memengaruhi kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang komprehensif untuk memahami dampaknya dari berbagai sudut pandang.
Pembahasan
Perspektif Budaya
Budaya digital saat ini cenderung mengutamakan kecepatan dan hiburan. Informasi dikemas dalam bentuk video pendek yang dapat dikonsumsi dalam hitungan detik. Akibatnya, masyarakat mulai terbiasa memperoleh informasi secara instan tanpa proses analisis yang mendalam. Dalam dunia pendidikan, kondisi ini dapat menggeser budaya membaca dan belajar yang selama ini menjadi fondasi pengembangan ilmu pengetahuan.
Sebagian siswa lebih tertarik mengikuti tren viral dibandingkan membaca buku atau mengerjakan tugas akademik. Bahkan, tidak sedikit guru yang lebih aktif mengikuti konten hiburan dibandingkan memperbarui kompetensi profesionalnya. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melahirkan generasi yang kaya informasi, tetapi miskin pemahaman.
Perspektif Sosial
Dari sisi sosial, media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengakuan. Popularitas sering kali diukur melalui jumlah pengikut, tayangan, dan tanda suka. Akibatnya, banyak individu lebih fokus membangun citra di dunia maya daripada meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan.
Dalam lingkungan sekolah, fenomena ini dapat memengaruhi pola pikir siswa dan guru. Prestasi akademik terkadang dianggap kurang menarik dibandingkan popularitas di media sosial. Padahal, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Perspektif Psikologis
Secara psikologis, TikTok dirancang untuk menarik perhatian pengguna melalui aliran konten yang terus-menerus. Sistem ini dapat membuat seseorang menghabiskan waktu berjam-jam tanpa menyadari berapa lama ia telah menggunakan aplikasi tersebut. Kebiasaan tersebut berpotensi menurunkan kemampuan fokus dan konsentrasi, terutama saat menghadapi materi pembelajaran yang membutuhkan pemikiran mendalam.
Selain itu, paparan konten yang serba cepat dapat membentuk kebiasaan berpikir instan. Seseorang menjadi terbiasa menerima informasi singkat tanpa melakukan analisis lebih lanjut. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan reflektif dapat mengalami penurunan.
Perspektif Agama
Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan tinggi. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-'Alaq ayat 1, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." Ayat ini menunjukkan pentingnya membaca dan mencari ilmu sebagai bagian dari kehidupan seorang muslim.
Media sosial pada dasarnya merupakan alat yang dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu, guru dan siswa perlu memanfaatkannya secara bijak, misalnya untuk berbagi ilmu, mencari informasi yang bermanfaat, dan memperluas wawasan. Penggunaan yang berlebihan hingga melalaikan kewajiban belajar bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan pemanfaatan waktu secara produktif.
Kesimpulan
Fenomena guru dan siswa yang aktif menggunakan TikTok tetapi minim literasi bukan semata-mata disebabkan oleh keberadaan media sosial, melainkan oleh cara penggunaannya. Dari perspektif budaya, sosial, psikologis, dan agama, terlihat bahwa penggunaan media sosial yang tidak seimbang dapat mengurangi minat belajar, melemahkan kemampuan berpikir kritis, dan menggeser nilai-nilai pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk memanfaatkan teknologi secara bijak agar media sosial menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan, bukan penghambat kemajuan pendidikan.

Komentar
Posting Komentar